NBRS Corp

Sejarah Sarung, Awalnya Hanya Dipakai untuk Status Sosial Tertentu!

Sejarah sarung, perjalanan historisnya dari simbol bangsawan hingga kini dipakai semua kalangan. Pelajari nilai budaya dan rekomendasi sarung terbaik. Sumber: NBRS Corp

Sarung Itu Awalnya untuk Siapa, Sih?

Pernah nggak sih kepikiran, sarung yang tiap hari kita pakai ini dulu ternyata bukan sembarangan kain? Kenyataannya, pada masa kerajaan dulu, sarung tenun hanya digunakan oleh keluarga bangsawan dan orang yang memiliki kedudukan tinggi sebagai simbol kekayaan dan kekuasaan. Gimana ceritanya sampai sarung jadi kain yang ada di setiap rumah saat ini?

 

Beli Disini

Asal Muasal Sarung Masuk ke Nusantara

Sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-14 melalui para pedagang dari Arab dan Gujarat. Ratusan tahun lalu kapal dagang dari Timur Tengah dan India singgah di pelabuhan Nusantara, membawa kain panjang yang kelak kita kenal sebagai sarung. Di negara asalnya, kain ini punya berbagai nama seperti lungi, izar, atau sarong, dan awalnya dipakai sebagai kain bawah oleh laki-laki. Praktis, adem, dan cocok banget buat cuaca panas.

 

Para pedagang Muslim mengenakan sarung untuk menutupi diri mereka dengan benar selama salat, sebuah praktik yang kemudian diadopsi oleh penduduk setempat. Dari situ, sarung mulai jadi bagian dari budaya lokal dan berkembang dengan caranya sendiri.

 

Sarung Sebagai Simbol Status Sosial

Ternyata sarung dulu bukan pakaian sembarangan yang bisa dipakai siapa saja. Pada awalnya, sarung hanya digunakan oleh kalangan tertentu, terutama kaum bangsawan dan pedagang kaya. Mengapa? Karena proses pembuatan sarung tenun itu sangat rumit dan butuh waktu lama, serta penggunaan bahan pewarna alami yang langka, menjadikan sarung tenun sebagai simbol kemakmuran.

 

Di budaya Sumba Timur, hanya bangsawan yang diizinkan memakai sarung kain berwarna cerah dan pola rumit, sedangkan rakyat biasa dibatasi satu atau dua warna dan pola polos. Jadi kalau dulu ada yang pakai sarung dengan motif warna-warni rumit, orang langsung tahu, “Wah, dia pasti bangsawan nih!” Bahkan sarung tenun sering digunakan sebagai bagian dari mahar dalam pernikahan atau sebagai hadiah berharga dalam upacara adat.

 

Perjalanan Sarung Jadi Milik Semua Orang

Seiring waktu, sarung mulai meluas ke berbagai kalangan. Sarung menyebar ke seluruh pelosok Nusantara dan diadopsi oleh berbagai suku bangsa dengan cara yang unik. Masyarakat lokal jatuh cinta dengan kain ini dan mulai mengolahnya jadi motif khas seperti sarung garis-garis Madura, tenun ikat NTT, dan sarung sutra Bugis.

 

Pemakaiannya pun meluas. Nggak cuma laki-laki bangsawan, ibu-ibu mulai memakainya di rumah, anak-anak memakainya saat berangkat ngaji, ayah dan kakek memakainya ke masjid. Yang membuat sarung semakin disukai adalah fleksibilitasnya. Bisa jadi pakaian, selimut, sampai gendongan. Di Indonesia, perjalanan sarung berubah total karena ia menjadi milik semua orang.

 

Dari Simbol Bangsawan Jadi Pakaian Semua Kalangan

 

Transformasi sarung dari simbol status sosial jadi pakaian rakyat adalah salah satu kisah paling menarik dalam sejarah fashion Indonesia. Setelah Islam masuk dan berkembang di Nusantara, sarung menjadi pakaian utama para santri di pesantren, bukan hanya penutup bagian tubuh tetapi juga simbol adab dan penghormatan terhadap ilmu.

 

Beli Disini

Sarung juga menjadi simbol kesetaraan karena semua santri mengenakannya tanpa memandang asal atau latar belakang keluarga. Dalam berbagai upacara keagamaan dan ritual adat, sarung sering digunakan sebagai simbol kesucian. Menariknya, sarung tidak mengacu pada satu identitas agama tertentu saja, tetapi dimiliki oleh semua kalangan, bersifat plural, dan bisa digunakan oleh siapa saja.

 

Ada periode menarik saat masa kolonial. Administrator kolonial Belanda memandang rendah pakaian lokal, bahkan pada tahun 1872 memperkenalkan undang-undang yang mewajibkan setiap orang mengenakan pakaian bangsa Eropa di tempat umum. Tapi justru di sinilah sarung jadi simbol perlawanan. Penggunaan sarung menjadi identitas dari perjuangan melawan penjajahan sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya barat.

 

Sarung di Masa Sekarang, Bukan Sekadar Kain Tradisional

Perubahan zaman bikin sarung ikut berevolusi. Jika dulu identik dengan acara formal dan ibadah, kini sarung tampil sebagai fashion statement anak muda. Desainer lokal terus mengeksplorasinya sehingga sarung tidak lagi sebatas busana tradisional, tetapi juga hadir sebagai pilihan casual maupun formal yang stylish.

 

Di 2025, sarung bukan hal aneh untuk dipakai ke acara santai. Influencer dan komika seperti Tretan Muslim bahkan mempopulerkannya lewat motif anime dan desain kekinian yang digemari generasi muda. Sarung dipadukan dengan jas, sneakers, atau jaket denim menghasilkan look yang fresh dan unik.

 

Beli Disini

Pilihan sarung sekarang makin luas, mulai dari palet monokrom, motif geometris modern, desain etnik kontemporer, hingga sarung batik eksklusif untuk momen semi-formal. 

 

Materialnya pun berkembang. Ada katun yang adem, rayon yang jatuh elegan, dan campuran TC atau TR yang ringan serta anti kusut sehingga lebih praktis tanpa repot menyetrika. Fungsinya juga makin fleksibel untuk ibadah, WFH, nongkrong, acara semi-formal, atau sekadar santai di rumah.

 

Penetapan Hari Sarung Nasional pada 3 Maret 2019 oleh Presiden Joko Widodo menjadi simbol pengakuan terhadap kekayaan budaya Indonesia. Sarung bukan sekadar pakaian, tetapi warisan yang patut dibanggakan.

 

Rekomendasi Sarung Modern dengan Kesan Klasik dari NBRS

Setelah memahami perjalanan sarung dari simbol bangsawan hingga jadi fashion sehari-hari, sekarang waktunya upgrade koleksi kamu dengan pilihan terbaik dari NBRS. Brand lokal yang paham kebutuhan generasi modern sekaligus menghargai nilai tradisi.

 

SAN 001

Beli Disini

Motif etnik simetris bernuansa monokrom yang elegan dengan material TR (Teteron Rayon) membuat sarung ini terasa lembut dan adem. Tidak mudah kusut sehingga lebih praktis tanpa perlu sering disetrika. Ukurannya 125 cm x 210 cm dengan drape yang rapi. Ideal untuk shalat di musholla kantor, pengajian, atau kondangan semi-formal. Hadir dalam warna Black, Grey, Navy, dan Brown yang mudah dipadukan.

 

SAN 002

Beli Disini

Motif khas Nusantara dengan susunan geometris elips yang berkarakter menggunakan material TR premium. Teksturnya halus, jatuh elegan, dan adem sehingga minim rasa gerah. Tidak mudah kusut sehingga penampilan tetap prima. Cocok untuk tampilan yang beda dengan nuansa budaya lokal yang modern. Pas dipakai ke acara formal seperti pernikahan atau walimah. Tersedia dalam warna Black, Maroon, dan Navy.

 

SAN 003

Beli Disini!

Material TC menggabungkan keunggulan polyester dan katun. Warnanya awet dan tidak mudah luntur. Teksturnya lembut, breathable, dan tahan lama sehingga pas untuk aktivitas harian. Nyaman dipakai untuk shalat atau sekedar santai di rumah. Pilihan yang awet dan tetap bagus meski sering dicuci. Hadir dalam warna Brown, Maroon, Grey, dan Green.

 

Dari simbol bangsawan di masa kerajaan hingga jadi bagian dari gaya hidup anak muda, sarung sudah melewati perjalanan panjang yang penuh arti. Lebih dari kain biasa, sarung adalah refleksi budaya Indonesia yang kaya, inklusif, dan terus relevan mengikuti zaman.

 

Yuk, explore koleksi sarung modern dari NBRS di nbrscorp.co.id dan temukan model yang paling sesuai dengan style kamu. Atau langsung kunjungi Nibras House terdekat untuk merasakan kualitas premium dan kenyamanan sarung NBRS secara langsung.

 

Content added and edited by: Khansa Firzana Ufairah

Komentar (0)
Untuk berkomentar, harap Masuk atau Registrasi terlebih dahulu